MEMILIH KECENDERUNGAN JIWA

 


Memilih Kecenderungan Jiwa

Sahabat sekalian, manusia adalah mahluk ciptaan terbaik. Terdiri atas unsur jasmani (QS.86:5-7), Ruhani (QS.17:5), serta jiwa (QS.39:70). Maka, kita sebagai manusia seyogyanya mengenal tiga unsur diri tersebut. Kemudian belajar untuk mengoptimalkan potensi yang diberikan.

Pengenalan terhadap masing-masing unsur akan mendorong kita untuk bersikap dan benar dalam rangka menjaga amanah berupa diri kita sendiri. Secara khusus kita akan membicarakan unsur jiwa. 

Sebagai bagian yang tak terlihat dari dalam diri, jiwa sering diabaikan perawatannya. Padahal, jiwa lah yang akan dipanggil pulang. Sedangkan fisik atau jasad akan kembali pada unsur alaminya. Pertanyaannya, sudahkah kita memperhatikan jiwa secara serius. Agar ketika pulang, jiwa akan selamat.

Tolok ukur jiwa yang pulang dengan selamat, akan dipanggil mesra oleh pemilik-Nya. "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan jiwa yang ridha dan  diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku" (QS.(89) Al-Fajr : 27-30)

Ayat tersebut ternyata menjadi standar dari kesehatan jiwa, yaitu jiwa yang tenang. Pertanyaan usil yang perlu kita ajukan untuk diri adalah, sudahkah kita masuk kategori jiwa yang tenang?

Ternyata  jiwa yang tenang, harus mulai diwujudkan dalam kehidupan dunia,yaitu saat ini dan disini. Karena, kalau menunggu disana, justru kita tidak mencapai ketenangan. Jiwa yang tenang akan meneduhkan dan menentramkan. Baik untuk kehidupannya pribadi, maupun bagi lingkungan tempatnya tinggal. Dengan kata lain, lingkungan yang gaduh, menandakan jiwa-jiwa disekitarnya dalam kekacauan.

Nah, sang jiwa itu ternyata bertumbuh. Maka, pribadi yang sehat adalah ketika jiwanya terus bertumbuh. Dari jiwa yang sehat akan dapat menangkap isyarat (Ilham) yang dihamparkan Allah dalam kehidupan.

"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya" (QS. (91) Asy-Syams:7-10).

Allah memberikan kebebasan memilih bagi manusia untuk memilih diantara dua jalan. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya tersebut. Diayat diatas sudah diberikan rumusan pada setiap jalannya.

Ketika manusia memilih jalan untuk menyucikan jiwanya, berarti dia memilih jalan taqwa. Sedangkan ketika memilih mengotori jiwanya dengan berbagai perbuatan yang melanggar, berarti memilih jalan kerugian.

Merujuk pada ayat sebelumnya tentang jiwa yang tenang. Maka orang tersebut berarti memilih jalan untuk kesucian jiwanya. Apa jalan kesucian itu? Yaitu jalannya para hamba Tuhan. Orang yang dengan kesadaran total menjalankan tugas kehambaannya. 

Ketika seseorang memilih jalan penyucian jiwa dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberikan reward Jannahnya Allah. Tidak terhenti disitu, dia akan kembali kepada Tuhannya.

Sekolah Kehidupan (SKH) yang mengajarkan 7 Ilmu Penjernih Hati merupakan salah satu sarana belajar untuk menyucikan jiwa. Semua penempuh jalan pulang (salik) di SKH akan menjalani prosesnya masing-masing.

Salah satu tolok ukur keberhasilan dalam menjalankan pembelajaran adalah munculnya jiwa yang ridho. Karena dari jiwa ridho lah kita akan diridhoi Allah. Orang yang ridho otomatis akan lebih mudah tenang. 

Ajaibnya ridho adalah jalan kebahagiaan yang selama ini dicari banyak orang. Sebagai penutup, mari kita hayati pesan dari Syeikh Abdul Qadir Al Jailani "tenang dan diamlah! Jika kalian Ridha, Dia akan mengubah kesusahan kalian menjadi kebahagiaan".

Wallahu A'lamu Bish-Showab

Desa Menari, 3 Februari 2025

Kang Tris

Murid Sekolah Kehidupan


Posting Komentar untuk "MEMILIH KECENDERUNGAN JIWA"